ZONAKALTIM.ID, SANGATTA – Salah satu proyek terbesar dalam paket multiyears 2026–2028 Kabupaten Kutai Timur adalah pembangunan pelabuhan senilai Rp200 miliar. Pemerintah meyakini pelabuhan tersebut akan menjadi titik balik bagi distribusi barang dan pengembangan ekonomi wilayah pesisir maupun pedalaman.
Kepala Bappeda Kutim, Noviari Noor mengatakan, pelabuhan ini sengaja dimasukkan ke dalam skema multiyears agar pembangunannya lebih terencana. “Pelabuhan ini akan membuka pintu baru bagi aktivitas usaha masyarakat,” ujarnya.
Selama ini, akses logistik Kutim dinilai belum sepenuhnya efisien, terutama di kecamatan yang tergantung pada jalur darat. Kondisi jalan yang belum merata sering membuat biaya distribusi melonjak, sehingga harga kebutuhan pokok menjadi tidak stabil.
Proyek pelabuhan ini akan melengkapi 16 proyek jalan yang menjadi fokus utama multiyears. Dengan adanya jalur laut, pemerintah berharap mobilitas barang tidak lagi bergantung pada satu jalur saja. “Kalau infrastrukturnya kuat, warga akan lebih mudah mendapatkan layanan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi,” kata Noviari.
Pembangunan multiyears Kutim membutuhkan dana total Rp2,1 triliun, yang dibagi menjadi Rp600 miliar pada 2026, Rp900 miliar pada 2027, dan sisanya pada 2028. Skema ini dianggap paling ideal agar memecah beban anggaran sekaligus memastikan pengerjaan berlangsung stabil.
Selain pelabuhan, beberapa proyek strategis lainnya tetap diproses melalui mekanisme anggaran perubahan seperti Jembatan Telen yang sebelumnya sempat terhenti.
Noviari menegaskan, pembangunan pelabuhan bukan sekadar proyek fisik, tetapi bagian dari visi besar membuka konektivitas ekonomi baru di Kutai Timur. “Kami ingin setiap rupiah memberi manfaat nyata,” katanya. (adv/diskominfokutim/prb)




