ZONAKALTIM.ID, SANGATTA – Upaya Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menurunkan harga beras premium memasuki fase intensif. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) kini mengandalkan strategi negosiasi langsung dengan pemasok besar sebagai langkah utama untuk meredam kenaikan harga yang sempat mencapai Rp19.000 per kilogram.
Pejabat Fungsional Pengawas Perdagangan Ahli Muda Disperindag Kutim, Achmad Dony Erviady, mengatakan, komunikasi intensif dengan agen dari Surabaya, Sulawesi, dan Samarinda merupakan kunci keberhasilan menekan harga. “Hasilnya cukup terlihat. Harga beras premium bisa kita tekan ke kisaran Rp16.800-17.000. Ini perbaikan signifikan dibanding bulan sebelumnya,” ujarnya.
Negosiasi tersebut menyasar dua aspek margin keuntungan agen dan efisiensi pengiriman. Disperindag meminta agar agen tidak membebani harga secara berlebihan serta mencari jalur distribusi yang lebih hemat biaya.
Menurut Dony, pendekatan diplomatif ini lebih efektif dibanding intervensi langsung terhadap pedagang di pasar. Pasalnya, pedagang hanya menjual berdasarkan harga modal yang sudah tinggi akibat beban distribusi yang diterima dari agen.
Selain negosiasi, Disperindag memperkuat koordinasi dengan distributor agar pasokan tidak terlambat. Pengiriman dipercepat ketika stok menipis untuk menghindari kekhawatiran masyarakat. “Psikologis pasar itu penting. Kalau stok terlihat aman, harga cenderung stabil,” jelasnya.
Pemerintah daerah juga meningkatkan pengawasan terhadap pedagang untuk mencegah adanya permainan harga di tingkat eceran. Jika ditemukan deviasi signifikan, Disperindag siap mengambil langkah korektif bersama tim pengendali inflasi daerah.
Dony menegaskan, strategi negosiasi akan terus dilakukan, mengingat Kutim sepenuhnya bergantung pada pasokan luar daerah dan tidak memiliki produksi beras skala besar. “Karena kita daerah konsumen, maka solusinya adalah memperkuat jaringan distribusi dan menekan biaya logistik,” tegasnya. (adv/diskominfokutim/prb)
