ZONAKALTIM.ID, SANGATTA – Dinas Kebudayaan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menegaskan pentingnya peran pembinaan dalam menentukan calon penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia. Bagi dinas ini, pelaku seni sejati bukan hanya mereka yang menghasilkan karya, melainkan juga yang mampu menularkan keahliannya kepada orang lain.
Kabid Kebudayaan Kutim, Fadliansyah Budi, mengatakan, pihaknya kini menilai pelaku budaya berdasarkan sejauh mana mereka berperan sebagai penggerak dan mentor di komunitasnya.
“Selain dia berwastra, dia juga diteliti atau divisitasi, ternyata dia bisa memberikan pelatihan-pelatihan. Itu salah satu kriteria,” ujarnya dalam wawancara di sela peringatan HUT Kutim.
Kriteria ini, menurutnya, berlaku lintas bidang mulai dari sastra, seni rupa, hingga wastra atau tenun. “Kalau nggak salah juga ada kriteria sastrawan, penulis, penulis tulis, penulis puisi juga masuk,” katanya.
Dengan begitu, Dinas Kebudayaan berharap penghargaan tersebut mampu mendorong munculnya pelaku budaya yang tak hanya fokus pada prestasi individu, tetapi juga aktif membangun lingkungan kreatif di sekitarnya.
“Yang penting bukan hanya bisa berkarya, tapi bisa berbagi. Itu yang kami cari,” tegas Fadliansyah.
Ia memastikan tim seleksi akan meninjau setiap kandidat secara cermat hingga batas waktu pengumuman pada 10 November mendatang. “Kami akan push satu persatu, sebelum diumumkan,” ujarnya.
Pendekatan ini menunjukkan visi besar Dinas Kebudayaan Kutim dalam membangun ekosistem budaya yang berkelanjutan. Dengan mengutamakan aspek pembinaan dan regenerasi, penghargaan ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi para pelaku seni untuk lebih aktif berkontribusi dalam pelestarian warisan budaya daerah. (adv/diskominfokutim/prb)
