ZONAKALTIM.ID, SANGATTA – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menorehkan prestasi membanggakan dalam upaya menekan kasus stunting. Berdasarkan Survei Kesehatan Daerah (Surkesda) 2025, prevalensi stunting di Kutim turun menjadi 13,8 persen, melampaui target nasional 14 persen yang ditetapkan pemerintah pusat untuk 2024.
Kepala Dinas Kesehatan Kutim, Sumarno, mengatakan penurunan drastis ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan hasil strategi berkelanjutan yang mencakup intervensi gizi, kesehatan lingkungan, dan edukasi keluarga. “Stunting bukan hanya masalah makan, tapi juga pola hidup dan perilaku. Karena itu, pendekatan kita bersifat menyeluruh,” ujarnya.
Program utama difokuskan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), masa paling krusial untuk pertumbuhan anak. Dinas Kesehatan Kutim memperkuat posyandu, layanan kehamilan, serta penyaluran makanan tambahan dan tablet penambah darah.
“Intervensi dini sangat penting. Kita tidak menunggu anak lahir untuk bertindak,” jelas Sumarno.
Selain itu, Pemkab Kutim memperkenalkan Gerakan Remaja Sehat Bebas Anemia untuk menyiapkan calon ibu dengan kondisi gizi yang baik. Program ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang pemutusan siklus stunting antargenerasi.
Meski telah melampaui target nasional, Sumarno menegaskan bahwa pemerintah tetap waspada terhadap kemungkinan kenaikan angka jika kesadaran masyarakat menurun. “Kita akan jaga konsistensi dengan memperkuat edukasi keluarga dan pemantauan gizi,” tegasnya.
Keberhasilan Kutim menjadi contoh nyata bahwa pengendalian stunting membutuhkan kesinambungan kebijakan dan perubahan budaya hidup sehat. Langkah ini sekaligus menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam membangun generasi emas Kutim yang sehat, produktif, dan berdaya saing tinggi. (adv/diskominfokutim/prb)
