ZONAKALTIM.ID, SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menggunakan pendekatan berbasis perilaku konsumen dalam menjaga inflasi tetap stabil. Pejabat Fungsional Pengawas Perdagangan Ahli Muda Disperindag Kutim, Achmad Dony Erviady, mengungkapkan, masyarakat Kutim memiliki kecenderungan untuk memprioritaskan ketersediaan barang dibanding harga murah.
“Masyarakat kita lebih memilih barang tersedia daripada harga murah. Selama pasokan aman, harga tinggi masih bisa diterima,” ujarnya.
Karakteristik ini, menurut Dony, sangat mempengaruhi pola penyusunan kebijakan pemerintah daerah. Alih-alih fokus pada intervensi harga, Disperindag memilih memastikan kontinuitas pasokan agar tidak terjadi kekosongan di pasar.
Dony menilai, kelangkaan barang justru lebih berbahaya daripada kenaikan harga. “Kalau sudah langka, dampaknya jauh lebih berbahaya daripada harga naik,” katanya.
Kutim, sebagai daerah konsumen, bergantung penuh pada pasokan luar. Hampir semua komoditas pangan didatangkan dari Jawa, Sulawesi, dan Samarinda. Struktur logistik yang berlapis membuat harga barang tidak dapat ditekan terlalu rendah.
Untuk menjaga psikologi pasar tetap stabil, Disperindag memantau 20 komoditas pangan setiap hari. Data ini menjadi dasar pengambilan keputusan, termasuk operasi pasar, pembatasan pembelian, hingga koordinasi distribusi.
“Kebijakan harga tanpa pasokan itu percuma. Fokus kami adalah availability,” tegasnya.
Pemerintah daerah juga menerapkan sistem pembaruan data stok di gudang distributor agar dapat mengantisipasi kenaikan konsumsi ketika memasuki musim liburan, Idul Fitri, atau pergantian tahun.
Dony menilai strategi ini terbukti efektif. “Inflasi terkontrol justru karena barang tetap ada. Psikologis pasar itu penting,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemahaman perilaku konsumen menjadi faktor penting dalam menyusun kebijakan ekonomi daerah di Kutim. (adv/diskominfokutim/prb)
