ZONAKALTIM.ID, SANGATTA – Di tengah tingginya harga bahan pokok, masyarakat Kabupaten Kutai Timur (Kutim) ternyata memiliki kecenderungan yang cukup unik dalam menyikapi kondisi ekonomi daerah. Pejabat Fungsional Pengawas Perdagangan Ahli Muda Disperindag Kutim, Achmad Dony Erviady, menyebut, bagi masyarakat Kutim, ketersediaan barang jauh lebih penting daripada harga murah.
“Masyarakat Kutim lebih memilih barang tersedia daripada murah. Selama pasokan aman, tekanan inflasi bisa tetap terkendali,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut tak lepas dari karakteristik ekonomi Kutim yang merupakan daerah konsumen. Seluruh bahan pokok, termasuk beras, minyak, gula, tepung, hingga bumbu dapur, didatangkan dari luar daerah. Tidak ada komoditas besar yang diproduksi di dalam Kutim.
“Semua pasokan masuk dari luar. Ada yang dari Jawa, ada dari Sulawesi, dan sebagian dari Samarinda,” jelasnya.
Karena seluruh barang harus melalui proses distribusi panjang dengan biaya tinggi, harga jual di pasar Kutim pun tidak dapat bersaing dengan daerah penghasil. Namun masyarakat tetap menempatkan aspek ketersediaan sebagai prioritas utama.
“Yang penting barang ada dulu. Masyarakat kita lebih fokus pada pasokan yang lancar,” tambahnya.
Menurut Dony, pemerintah daerah memiliki tugas penting untuk memastikan arus barang tidak terputus, terutama dengan kondisi geografis Kutim yang luas dan jarak antar kecamatan yang bisa mencapai dua jam perjalanan. Biaya transportasi yang besar membuat harga barang sulit ditekan.
“Harga bisa naik bukan karena barang langka, tetapi karena biaya kirim yang besar. Jarak geografis kita tidak sederhana,” tegasnya.
Ia menilai penguatan infrastruktur logistik, termasuk percepatan pembangunan pelabuhan dan kerja sama pasokan dengan daerah luar, menjadi langkah vital.
“Selama kita masih bergantung pada pasokan luar, harga akan mengikuti beban distribusinya,” kata Dony. (adv/diskominfokutim/prb)
