Zonakaltim.id, Samarinda – Satu tahun perjalanan kepemimpinan Gubernur Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur Seno Aji diwarnai ruang dialog terbuka bersama mahasiswa. Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (ALIANSI GERAM) menyampaikan aspirasi di depan Kantor Gubernur Kaltim, Senin (23/2/2026). Momentum ini justru menjadi ajang klarifikasi sekaligus penguatan komitmen pemerintah terhadap sektor pendidikan.
Alih-alih menjaga jarak, Gubernur Rudy Mas’ud memilih duduk bersila bersama mahasiswa. Dengan pendekatan santai namun substantif, ia membuka diskusi berbasis data. Ia meminta mahasiswa menyampaikan informasi konkret terkait penerima manfaat Beasiswa Kaltim maupun program GratisPol sebagai bahan evaluasi bersama.
“Adik-adik semua, ada yang punya data tentang berapa jumlah mahasiswa yang sudah mendapatkan manfaat Beasiswa Kaltim atau program GratisPol?,” tanyanya.
Mahasiswa menyampaikan bahwa banyak penerima GratisPol, namun meminta transparansi lebih lanjut karena adanya laporan mahasiswa yang tidak lolos seleksi meski merasa telah memenuhi syarat administrasi. Aspirasi tersebut langsung ditanggapi sebagai bagian dari komitmen perbaikan tata kelola.
Gubernur kemudian memaparkan perbandingan capaian antara Beasiswa Kaltim Tuntas pada era Isran Noor – Hadi Mulyadi dengan program GratisPol yang kini dijalankan. Ia menekankan bahwa GratisPol 2025 telah menjangkau 24.890 mahasiswa meski baru berjalan di pertengahan tahun anggaran.
“Beasiswa Kaltim Tuntas tahun kedua (2020), tidak lebih dari 5.000 penerima. Sedangkan program GratisPol 2025, meski baru berjalan pertengahan tahun anggaran, menjangkau 24.890 mahasiswa,” bebernya.
Untuk 2026, GratisPol ditargetkan menjangkau 158.981 mahasiswa dengan anggaran Rp1,38 triliun, mencakup jenjang S1 hingga S3, termasuk mahasiswa luar daerah dan luar negeri. Meski APBD mengalami penurunan signifikan, pendidikan tetap menjadi prioritas utama.
“Kaltim ini menjadi etalase Indonesia, ibukota Nusantara. Maka, pendidikanlah yang paling utama. Sebab yang mampu memutuskan rantai kemiskinan dan kemunduran, cuma pendidikan. Lebih dari itu enggak ada,” tutupnya.




