ZONAKALTIM.ID, KUTAI KARTANEGARA – Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Tenggarong ke-244, Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Aulia Rahman Basri melakukan ziarah ke makam pendiri Kota Tenggarong, Sultan Aji Imbut, serta makam para raja Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Ziarah tersebut menjadi bagian dari momentum peringatan HUT Kota Tenggarong sekaligus menjadi kesempatan untuk mengenang sejarah panjang berdirinya kota yang kini menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Kukar. Kegiatan itu juga menjadi refleksi bagi pemerintah daerah dalam melanjutkan pembangunan di daerah.
“Kita melaksanakan acara ziarah makam pendiri Kota Tenggarong, Sultan Aji Imbut, dan ziarah makam para raja-raja di makam Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura,” kata Aulia, saat temui oleh awak media usai melakukan ziarah, Senin (27/09/202).
Menurutnya, keberadaan Kota Tenggarong saat ini tidak terlepas dari perjuangan panjang Sultan Aji Imbut. Salah satu bagian penting dalam sejarah tersebut adalah keputusan Aji Imbut memindahkan pusat pemerintahan dari Pemarangan ke Tepian Pandan yang kemudian dikenal sebagai Tangga Arung atau Rumah Raja.
“Kegiatan ziarah ini mengingatkan kita pada beberapa hal. Yang pertama, bahwa Kota Tenggarong ini tidak serta-merta ada seperti yang kita lihat pada hari ini. Ada perjuangan panjang yang dilakukan oleh seorang yang kita sebut dengan Aji Imbut,” ujarnya.
Ia menambahkan, perpindahan pusat pemerintahan tersebut memiliki makna penting bagi generasi saat ini. Menurutnya, keputusan Aji Imbut meninggalkan Pemarangan menunjukkan bahwa perubahan dan perpindahan dapat menjadi jalan untuk mendapatkan kondisi yang lebih baik.
“Kedua, pelajaran yang bisa kita ambil adalah bahwa hijrah atau perpindahan itu menjadi suatu keniscayaan untuk sesuatu yang lebih baik,” jelasnya.
Tidak hanya itu , ia menceritakan, pada masa tersebut kondisi Pemarangan dinilai sudah tidak kondusif, terutama setelah terjadi pemberontakan. Aji Imbut yang sebelumnya dibesarkan oleh kakeknya, La Maddukelleng, di Tanah Wajo kemudian kembali ke Kutai untuk mengambil kembali tahta yang telah diambil alih pihak lain.
Bagi pemerintah kabupaten saat ini, ziarah ke makam para pendahulu tidak hanya menjadi kegiatan untuk mengenang sejarah. Momentum tersebut juga menjadi refleksi sekaligus bekal bagi generasi penerus dalam menjalankan pemerintahan dan membangun Kabupaten Kukar.
“Kita sebagai generasi penerus hari ini memandang ziarah ini bukan hanya sebagai sebuah perjalanan sejarah, akan tetapi ini merupakan suatu refleksi dan bekal bagi kami dalam membangun Kabupaten Kutai Kartanegara,” tuturnya.
Ia berharap Tenggarong tetap mempertahankan identitasnya sebagai kota yang memiliki sejarah panjang Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Nilai tersebut juga harus tercermin dalam cara pemerintah memperlakukan masyarakat.
“Kita berharap Tenggarong ini tetap menjadi kotanya para raja. Kita memperlakukan seluruh warga masyarakat yang ada di Kabupaten Kutai Kartanegara ini layaknya raja,” ungkapnya.
Momentum HUT ke-244 Kota Tenggarong juga dinilai selaras dengan pelaksanaan Erau Adat Kutai 2026 yang mengusung tema “Raja Menjamu Rakyat”. Oleh sebab itu, ia berharap nilai tersebut terus dijaga dalam penyelenggaraan Erau pada tahun-tahun berikutnya.
“Mudah-mudahan kegiatan Erau bisa kita jaga konsistensinya. Di tahun 2027 nantinya kita bisa laksanakan lebih semarak, lebih meriah lagi, dan tentunya tanpa meninggalkan nilai sakralitas yang dimiliki oleh Erau itu sendiri,” pungkasnya.(Adv/diskominfokukar/Rian)




