Kamis, 15 Oktober 2026 16:50 WITA

Antrean Pertalite Mengular di Samboja, Disperindag Kukar Soroti Akses BBM Subsidi

Kamis, 15 Oktober 2026 16:50 WITA

Plt. Kepala Disperindag Kukar, Burhanuddin.(Foto:Rian)
Plt. Kepala Disperindag Kukar, Burhanuddin.(Foto:Rian)

ZONAKALTIM.ID, KUTAI KARTANEGARA – Antrean pembelian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite masih menjadi perhatian di sejumlah wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), khususnya Kecamatan Samboja dan Samboja Barat yang berada di jalur perlintasan menuju Balikpapan.

Plt. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kukar, Burhanuddin mengatakan, berdasarkan data yang dimiliki pihaknya terdapat sekitar 30 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang tersebar di wilayah Kukar.

“Sudah ada sekitar 30 SPBU berdasarkan beberapa data yang kami miliki di Kutai Kartanegara,” kata Burhanuddin.

Menurutnya, persoalan BBM subsidi di Kukar tidak hanya berkaitan dengan panjangnya antrean, tetapi juga adanya dugaan pembelian dalam jumlah tidak wajar. Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi perhatian bersama agar penyaluran BBM subsidi tetap sesuai peruntukannya.

“Kalau menyikapi penjualan BBM subsidi di Kukar, memang ada sebagian yang tidak sesuai peruntukannya. Mungkin ada yang mengambil dalam jumlah banyak dan tidak wajar, satu orang bisa sampai ratusan liter,” ujarnya.

Ia menyebut, kondisi antrean Pertalite di Kukar secara umum masih relatif terkendali dibandingkan Balikpapan. Namun, situasi berbeda terlihat di Samboja dan Samboja Barat, terutama pada SPBU yang berada di jalur Kilometer 28 dan Kilometer 38.

“Kalau di kita masih relatif terkendali dibandingkan dengan Balikpapan. Samboja dan Samboja Barat memang yang cukup parah, karena berada di jalur Kilometer 38 dan Kilometer 28. Di sana antreannya memang panjang,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, salah satu faktor yang membuat antrean di wilayah tersebut cukup panjang karena Samboja Barat merupakan kawasan perbatasan. Kondisi itu membuat warga dari Balikpapan turut datang ke wilayah tersebut untuk mendapatkan Pertalite.

“Karena kalau di Samboja Barat, daerah perbatasan, banyak orang dari Balikpapan yang datang ke situ untuk mengantre Pertalite,” jelasnya.

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan sistem pengaturan BBM subsidi yang diterapkan di Samarinda dan Balikpapan. Menurutnya, di Samarinda terdapat sistem kupon, sedangkan di Balikpapan pembelian Pertalite dibatasi berdasarkan waktu dan jumlah.

“Itu karena di Balikpapan dibatasi. Kalau di tempat kita, khususnya Samboja Barat di Kilometer 28 dan Kilometer 38, itu kan dibuka terus,” pungkasnya.(Adv/diskominfokukar/Rian)