Kamis, 27 Maret 2025 18:20 WITA

Desa Tani Bhakti Pilih Sawah daripada Tambang, Bertahan Demi Masa Depan Berkelanjutan

Kamis, 27 Maret 2025 18:20 WITA

Ilustrasi pertanian di seberang tambang.

Zonakaltim.id, TENGGARONG – Ketika banyak desa tergiur janji investasi dari industri tambang, Desa Tani Bhakti di Kecamatan Loa Janan justru mengambil jalan berbeda.

Di tengah gempuran proposal bisnis dari perusahaan batu bara, Kepala Desa Muhammad Amin bersikukuh untuk mempertahankan identitas pertanian desanya.

“Batu bara bisa membawa uang cepat, tapi sawah membawa hidup yang panjang. Kita harus memilih yang memberi masa depan, bukan sekadar kilau sesaat,” ujar Amin dengan nada tegas, Kamis (27/3/2025).

Langkah yang diambil Tani Bhakti bukan keputusan mudah. Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah sekitar mereka mulai dikepung aktivitas pertambangan, dengan segala kemegahan infrastrukturnya. Namun bagi Amin, suara tanah dan gemuruh mesin tambang tak pernah sebanding.

“Kami melihat sendiri, desa-desa yang menerima tambang akhirnya kehilangan lahan. Setelah selesai ditambang, apa yang tersisa? Kita tidak mau itu terjadi di sini,” tambahnya.

Lebih dari sekadar menolak tambang, Amin bersama perangkat desa dan warganya tengah menghidupkan kembali nilai-nilai lokal: gotong royong, kesederhanaan, dan ketergantungan pada bumi sendiri. Pertanian bukan hanya sumber nafkah, tapi bagian dari budaya dan kedaulatan desa.

Amin menyebut, komitmen ini bukan berarti menutup diri dari pembangunan. Namun mereka memilih pembangunan yang tidak mengorbankan alam dan akar sosial masyarakat.

“Kami tidak anti-investasi. Tapi kami ingin investasi yang menjaga lahan, tidak menggusur petani, dan memberi nilai tambah yang nyata,” katanya.

Tani Bhakti kini dikenal sebagai salah satu desa di Kukar yang tegas dalam mempertahankan jalur agrarisnya. Langkah ini juga menjadi inspirasi bagi desa lain yang tengah menghadapi godaan serupa.

Di tengah dunia yang semakin pragmatis, Tani Bhakti memilih setia pada tanahnya sendiri—karena dari sanalah mereka tumbuh, dan untuk sanalah mereka berjuang.