ZONAKALTIM.ID, SANGATTA – Upaya pengembangan klaster Industri Kecil Menengah (IKM) berbasis komoditas lokal di Kutai Timur (Kutim) harus tertunda akibat kebijakan efisiensi fiskal tahun 2025-2026. Program pelatihan untuk klaster pisang, kakao, dan pangan olahan yang sebelumnya berjalan aktif kini dihentikan karena ketiadaan anggaran.
Kepala Disperindag Kutim, Nora Ramadhani, mengatakan, kondisi ini sangat disayangkan karena banyak sentra produksi sedang berada pada fase pertumbuhan. “Kalau hanya menjual bahan mentah, nilai tambahnya kecil. Pelatihan itu penting agar IKM bisa naik kelas,” ujarnya.
Dirinya menjelaskan, klaster IKM pisang di Kaubun dan Kaliorang telah berkembang pesat, menghasilkan produk seperti susu pisang, keripik, hingga frozen product seperti Fruity Box dan Kalbana. Produk-produk ini bahkan telah menembus pasar nasional dan ekspor. Namun penghentian pelatihan membuat pendampingan lanjutan terhambat.
Selain pisang, klaster kakao yang disiapkan untuk menghasilkan cokelat bubuk dan produk turunan lainnya juga tertunda pengembangannya. IKM pangan olahan pun turut terdampak karena pembinaan higienitas produksi dan packaging tidak dapat dilakukan.
“Kami tetap bantu semampunya. Tapi tanpa pelatihan terstruktur, kemajuan itu tidak akan signifikan,” katanya.
Pemerintah kini hanya mengandalkan konsultasi teknis lintas OPD, namun pendekatan tersebut dinilai tidak cukup untuk mendorong percepatan hilirisasi produk lokal.
Efisiensi anggaran menjadi pukulan bagi agenda diversifikasi ekonomi Kutim yang tengah didorong untuk mengurangi ketergantungan pada sektor tambang. (adv/diskominfokutim/prb)
