Zonakaltim.id, AMBON – Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di Pulau Sumatera dan Kalimantan kini dampaknya telah meluas hingga ke wilayah Indonesia Timur. Kota Ambon, Maluku, sejak Minggu malam (12/10/2026) diselimuti kabut asap tebal yang menyebabkan jarak pandang di Bandara Internasional Pattimura hanya tersisa 200 meter, jauh di bawah batas aman penerbangan yaitu 800 meter.
Akibat kondisi tersebut, sebanyak 14 penerbangan dari dan menuju Ambon terpaksa dibatalkan pada hari ini, Senin (13/10/2026). Pembatalan tersebut meliputi penerbangan rute Ambon-Jakarta, Ambon-Makassar, Ambon-Sorong, dan Ambon-Tual yang dioperasikan oleh Garuda Indonesia, Lion Air, dan Wings Air.
Baca juga: Lima Helikopter Water Bombing Gagal Padamkan Karhutla Sumsel
Kepala Bandara Pattimura Ambon, Purnama, mengatakan bahwa pembatalan penerbangan dilakukan demi keselamatan penumpang dan kru pesawat. Pihak bandara tidak ingin mengambil risiko dengan tetap memaksakan penerbangan dalam kondisi jarak pandang yang sangat minim.
“Sejak pukul 05.00 WIT tadi, visibility hanya 200 meter. Padahal minimal untuk take off dan landing harus 800 meter. Jadi semua penerbangan pagi kami tunda, dan setelah evaluasi hingga siang tidak ada perbaikan, akhirnya kami batalkan,” ujar Purnama.
Kondisi kabut asap ini merupakan yang terparah dalam 3 tahun terakhir di Ambon. Biasanya, asap Karhutla dari Sumatera dan Kalimantan hanya menyebabkan kabut tipis, namun kali ini asapnya sangat pekat hingga menyebabkan langit di Kota Ambon berwarna kekuningan dan matahari tidak terlihat jelas sejak pagi.
Baca juga: Prabowo Perintahkan Penanganan Khusus Karhutla Tanjung Puting Tuntas
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pattimura menjelaskan bahwa asap tebal ini terbawa oleh angin monsun dari arah barat yang bertiup cukup kencang. Angin tersebut membawa partikel asap dari kebakaran di Kalimantan Tengah dan Sumsel melintasi Laut Jawa, Sulawesi, hingga sampai ke Maluku.
BMKG juga mencatat bahwa kualitas udara di Kota Ambon pada hari ini masuk dalam kategori tidak sehat dengan indeks ISPU mencapai 185. Angka tersebut menunjukkan bahwa udara sudah tidak layak untuk dihirup dalam waktu lama, terutama bagi anak-anak, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan.
Pemerintah Kota Ambon melalui Dinas Kesehatan telah membagikan 20.000 masker gratis kepada masyarakat, terutama kepada para pengemudi ojek, pedagang kaki lima, dan petugas kebersihan yang banyak beraktivitas di luar ruangan. Masyarakat juga diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar rumah dan memperbanyak minum air putih.
Baca juga: Prabowo Panggil KKP ke Hambalang, Bahas 100 Kampung Nelayan
Tidak hanya di Ambon, dampak asap juga dirasakan di Bandara Hasanuddin Makassar, dimana 7 penerbangan juga dilaporkan dibatalkan dengan alasan yang sama, yaitu jarak pandang yang terbatas akibat asap. Hal ini menyebabkan ratusan penumpang terlantar di dua bandara tersebut.
Salah satu penumpang yang terdampak, Maria (34), mengaku kecewa karena harus menghadiri acara keluarga di Jakarta namun penerbangannya dibatalkan. “Saya sudah dari jam 4 subuh di bandara, tapi sampai jam 12 siang belum ada kepastian. Akhirnya dibilang batal. Mau reschedule besok juga belum tentu ada karena asap masih tebal,” keluhnya.
Pihak maskapai memberikan opsi reschedule tanpa biaya tambahan atau refund penuh bagi penumpang yang penerbangannya dibatalkan. Namun, banyak penumpang yang memilih untuk menunggu di bandara dengan harapan cuaca membaik dan penerbangan bisa kembali normal sore ini.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan telah berkoordinasi dengan BNPB untuk mempercepat penanganan Karhutla di sumbernya, agar asap tidak semakin menyebar luas. Menteri Perhubungan juga meminta kepada seluruh bandara yang terdampak untuk terus memberikan informasi terkini kepada penumpang melalui media sosial dan pengeras suara di bandara.
Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menegaskan bahwa pelaku pembakaran hutan akan ditindak tegas dan tidak ada toleransi. Patroli udara juga ditingkatkan untuk memantau titik-titik api baru yang muncul.
Masyarakat di Ambon berharap agar pemerintah segera mengatasi Karhutla ini agar aktivitas penerbangan dan perekonomian bisa kembali normal. Para pelaku usaha pariwisata di Ambon juga mengeluhkan sepinya wisatawan akibat pembatalan penerbangan ini, yang menyebabkan kerugian hingga ratusan juta rupiah per hari.
Hingga berita ini diturunkan, kabut asap di Ambon masih belum menunjukkan tanda-tanda akan menipis, dan BMKG memprediksi kondisi ini akan berlangsung hingga 2-3 hari ke depan tergantung dari penanganan Karhutla di Sumatera dan Kalimantan serta arah angin yang bertiup.
Mau gue bikinin gambar thumbnail-nya juga?




