ZONAKALTIM.ID, SANGATTA – Pasar murah di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) bukan hanya agenda tahunan, tetapi juga mekanisme penanganan krisis yang terbukti efektif meredam gejolak pasar. Program ini digelar oleh Disperindag Kutim ketika terjadi gangguan harga atau pasokan yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat.
Pejabat Fungsional Pengawas Perdagangan Ahli Muda Disperindag Kutim, Achmad Dony Erviady, mengungkapkan, pemerintah sengaja tidak melaksanakan pasar murah secara rutin bulanan agar intervensi tetap tepat sasaran. “Kami tidak ingin pasar murah menjadi kegiatan rutinitas yang kemudian tidak berdampak,” ujarnya.
Salah satu momen ketika pasar murah berperan besar adalah saat terjadinya kasus beras oplosan. Isu tersebut sempat menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap kualitas beras di pasaran. Pemerintah bergerak cepat dengan menyalurkan beras berkualitas lewat pasar murah. “Beras oplosan itu membuat warga gelisah. Maka kami distribusikan beras terjamin lewat pasar murah agar kepercayaan pulih,” jelas Dony.
Dalam kondisi gejolak harga, pasar murah menjadi media memastikan bahwa pangan terjangkau tetap dapat diakses. Pemerintah menyediakan stok dengan harga murah sehingga masyarakat tidak terdorong melakukan panic buying. “Jika masyarakat melihat pemerintah hadir dengan stok barang murah dan berkualitas, kepanikan bisa ditekan,” katanya.
Pendekatan adaptif ini membuat pemerintah lebih cepat merespons ketika harga naik tidak wajar atau pasokan terganggu akibat faktor eksternal seperti cuaca, keterlambatan kapal, atau distribusi antar daerah yang tersendat. Dengan intervensi yang tepat waktu, spekulasi pedagang dapat ditekan dan pasar kembali stabil.
Dony menegaskan, tujuan pasar murah bukan untuk mengambil peran pedagang, melainkan mengembalikan keseimbangan harga. “Intervensi dilakukan untuk stabilisasi, bukan mengganggu mekanisme pasar,” tuturnya.
Pendekatan responsif ini dianggap sangat penting karena Kutim masih bergantung pada suplai bahan pangan dari luar daerah. (adv/diskominfokutim/prb)




