ZONAKALTIM.ID, SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memperkuat fondasi pembangunan sumber daya manusia (SDM) melalui pengembangan sistem pendidikan inklusif. Fokus utamanya adalah mencetak guru-guru profesional yang mampu mengajar sekaligus mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim, Mulyono, menyebut, saat ini sudah ada 121 guru inklusi yang lulus pelatihan khusus, sementara 300 lainnya sedang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Tahun depan, pemerintah menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi 600 guru inklusi. “Kami tidak cukup hanya dengan pelatihan singkat. Para guru harus punya kompetensi akademik agar benar-benar mampu mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus,” ujarnya.
Kebijakan ini diambil sebagai bagian dari strategi jangka panjang meningkatkan kualitas pendidikan dan pemerataan layanan. Pemerintah menilai, kualitas SDM yang kuat tidak hanya ditentukan capaian akademik, tetapi juga kemampuan beradaptasi terhadap keberagaman di ruang belajar.
“Konsepnya bukan lagi satu sekolah inklusi, tapi semua sekolah harus siap menjadi inklusif,” tegas Mulyono.
Dengan langkah ini, Kutim ingin memastikan seluruh anak, tanpa terkecuali, dapat mengakses pendidikan berkualitas. Selain itu, program ini juga membuka peluang karier baru bagi guru-guru lokal untuk menjadi spesialis pendidikan inklusi yang diakui secara nasional.
“Pendidikan inklusif adalah investasi jangka panjang. Kami sedang membangun generasi Kutim yang tidak hanya cerdas, tapi juga empatik dan menghargai perbedaan,” tambahnya.
Program ini menandai transformasi pendidikan di Kutai Timur menuju sistem pembelajaran yang lebih setara, modern, dan berorientasi pada manusia, sekaligus memperkuat posisi Kutim sebagai daerah yang progresif dalam reformasi pendidikan di Kalimantan Timur. (adv/diskominfokutim/prb)
