ZONAKALTIM.ID, KUTAI KARTANEGARA – Upaya mempercepat penanganan hasil panen petani terus dilakukan Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) melalui pengembangan lantai jemur portable. Fasilitas ini diharapkan menjadi solusi pengeringan gabah yang lebih fleksibel, sekaligus memperkuat sarana pendukung pertanian di berbagai wilayah.
Kepala Disketapang Kukar, Ananias, menyampaikan bahwa pemerintah daerah menargetkan penyediaan 500 unit lantai jemur portable selama periode pemerintahan Bupati Kukar. Dari jumlah tersebut, sebanyak 104 unit telah tersedia melalui pengadaan yang dilakukan pada 2025 hingga 2026.
Menurutnya, inovasi tersebut berawal dari adaptasi teknologi pengering berbentuk *tunnel* yang biasa dimanfaatkan petani garam di Gresik dan Sidoarjo. Konsep itu kemudian dimodifikasi agar sesuai dengan kebutuhan petani di Kukar, terutama untuk membantu proses pengeringan gabah setelah panen.
“Lantai jemur portable ini kami kembangkan dengan mengadaptasi konsep *tunnel* pengering garam di Gresik dan Sidoarjo, kemudian disesuaikan agar dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian,” kata Ananias.
Ia menjelaskan, penggunaan fasilitas tersebut berpotensi diperluas untuk mengeringkan berbagai komoditas selain gabah. Beberapa di antaranya ialah jagung, kopi, kakao, rumput laut, hingga ikan asin. Meski memiliki beragam potensi pemanfaatan, fokus awal pengembangannya tetap diarahkan untuk mendukung pengeringan hasil panen padi.
Untuk tahap penyaluran, Disketapang Kukar memprioritaskan sejumlah wilayah yang dikenal sebagai sentra produksi pertanian. Daerah tersebut meliputi Tenggarong, Loa Kulu, Anggana, Sebulu, Muara Kaman, dan Marang Kayu. Meski demikian, petani di wilayah lain tetap berpeluang memperoleh fasilitas tersebut sesuai kebutuhan dan ketersediaan unit.
Dari sisi anggaran, pengadaan lantai jemur portable membutuhkan biaya kurang dari Rp50 juta untuk setiap unit. Selain relatif terjangkau, fasilitas ini memiliki keunggulan karena tidak memerlukan penyediaan lahan hibah sebagaimana yang dibutuhkan untuk pembangunan lantai jemur permanen.
“Biaya pengadaannya masih di bawah Rp50 juta per unit. Keunggulan lainnya, lantai jemur portable tidak membutuhkan lahan hibah sehingga pemanfaatannya bisa lebih fleksibel,” bebernya.
Disketapang Kukar juga membuka peluang untuk menyesuaikan dimensi fasilitas agar dapat digunakan di lokasi dengan keterbatasan ruang. Jika sebelumnya ukuran yang digunakan sekitar 4 x 25 meter, ke depan ukuran 4 x 15 meter turut dipertimbangkan agar lebih mudah ditempatkan di jalan usaha tani, pematang, maupun lahan kosong di sekitar kawasan pertanian.
Ia menambahkan, sifat portable menjadi kelebihan tersendiri karena fasilitas dapat dipindahkan sesuai kebutuhan. Apabila ukuran yang lebih kecil diterapkan, jumlah unit yang dapat disediakan berpotensi meningkat dan bahkan melampaui target awal sebanyak 500 unit. Namun, rencana tersebut masih memerlukan kajian dengan memperhitungkan kebutuhan petani serta kemampuan pengadaan pemerintah daerah.
Melalui pengembangan ini, Disketapang Kukar berharap ketersediaan sarana pengeringan dapat semakin merata dan membantu petani menangani hasil panen secara lebih praktis. Penyediaan lantai jemur portable diharapkan tidak hanya mendukung proses pascapanen, tetapi juga memperkuat infrastruktur pertanian dan ketahanan pangan di Kutai Kartanegara. (Adv/Diskominfo Kukar/Rian)




