ZONAKALTIM.ID, KUTAI KARTANEGARA – Ketersediaan pangan di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) diproyeksikan tetap mencukupi hingga akhir tahun meskipun sejumlah wilayah menghadapi musim kemarau dan kebakaran yang menimbulkan kabut asap. Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kukar memastikan pasokan 11 bahan pokok penting masih dalam kondisi terkendali berdasarkan perhitungan dan data dari organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Kepala Disketapang Kukar, Ananias, menjelaskan bahwa dampak kemarau terhadap ketersediaan pangan secara keseluruhan belum menunjukkan pengaruh yang signifikan. Sejumlah komoditas bahkan tercatat memiliki persediaan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga penghujung tahun.
“Jika dilihat secara keseluruhan, pengaruh kemarau terhadap ketersediaan pangan di Kukar relatif kecil. Berdasarkan proyeksi kami, 11 bahan pokok penting masih dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sampai akhir tahun,” kata Ananias, Minggu (1/11/2026).
Komoditas yang menjadi bagian dari pemantauan tersebut mencakup beras, minyak goreng, daging, ayam, telur, gula, serta sejumlah kebutuhan pokok lainnya. Untuk menjaga kestabilan pasokan, Disketapang Kukar terus berkoordinasi dengan instansi teknis, termasuk Dinas Pertanian, guna memantau perkembangan produksi dan kemungkinan dampak perubahan cuaca terhadap hasil pertanian.
Ia menyebutkan, berdasarkan data yang dihimpun dari OPD terkait, ketersediaan pangan di tingkat kabupaten masih relatif aman. Kondisi ini ditopang oleh persediaan sejumlah komoditas yang mencukupi, bahkan mengalami surplus, sehingga kebutuhan masyarakat diperkirakan tetap dapat terpenuhi.
“Data dari dinas-dinas terkait menunjukkan bahwa persediaan pangan secara umum masih mencukupi. Beberapa komoditas juga mengalami surplus,” sebutnya.
Terkait produksi padi, ia menerangkan bahwa puncak kemarau pada Agustus bertepatan dengan masa panen tanaman yang ditanam pada periode April–September. Cuaca kering pada dasarnya dapat membantu petani dalam memanen padi, terutama ketika tanaman telah memasuki waktu panen. Kendala lebih berpotensi muncul pada lahan yang terlambat ditanami akibat keterbatasan air sehingga masa panennya tidak bersamaan dengan puncak kemarau.
“Ketika kemarau mencapai puncaknya pada Agustus, sebagian petani justru memasuki masa panen. Kondisi kering dapat mendukung proses panen, sedangkan persoalan biasanya muncul pada lahan yang terlambat ditanami karena kekurangan air,” jelasnya.
Meski pasokan pangan daerah masih terjaga, Disketapang Kukar tetap memberi perhatian terhadap laporan gagal panen di sejumlah lokasi. Berdasarkan informasi dari dinas teknis, luas lahan yang mengalami gagal panen diperkirakan kurang dari 10 persen dari total luas lahan yang dilaporkan. Angka tersebut menjadi gambaran awal mengenai dampak kemarau, meskipun kondisi setiap wilayah dan lahan pertanian dapat berbeda.
Ananias menegaskan, kondisi pangan yang aman pada skala kabupaten tidak serta-merta berarti seluruh petani terhindar dari kerugian. Di tengah wilayah yang sedang mengalami panen raya, masih terdapat lahan tertentu yang gagal menghasilkan panen sehingga petani pemiliknya membutuhkan perhatian dan dukungan pemerintah.
“Dalam satu wilayah bisa terjadi panen raya, tetapi pada saat bersamaan ada juga lahan seluas tiga, lima, hingga tujuh hektare yang mengalami gagal panen,” tandasnya.
Karena itu, penanganan ketahanan pangan tidak hanya berfokus pada ketersediaan bahan pokok secara keseluruhan, tetapi juga memastikan masyarakat yang kehilangan hasil pertanian tetap memiliki akses terhadap pangan. Disketapang Kukar berkomitmen mengupayakan penyaluran cadangan pangan pemerintah bagi warga yang mengalami kerawanan pangan akibat gagal panen maupun bencana, sehingga bantuan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan di tengah kondisi pasokan daerah yang relatif aman. (Adv/Diskominfo Kukar/Rian)




