ZONAKALTIM.ID, KUTAI KARTANEGARA – Upaya mengurangi makanan terbuang dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) membutuhkan keterlibatan aktif pihak sekolah. Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kukar mendorong guru membangun kebiasaan makan sehat sekaligus memberikan pemahaman kepada siswa agar makanan yang telah disediakan dapat dikonsumsi secara optimal.
Kepala Disketapang Kukar, Ananias, yang juga terlibat dalam Satuan Tugas (Satgas) Percepatan MBG, menilai guru memiliki posisi penting dalam membentuk perilaku siswa. Melalui arahan dan contoh langsung di lingkungan sekolah, anak-anak diharapkan lebih terbiasa mengonsumsi makanan bergizi, termasuk menu sayuran yang kerap kurang diminati.
Menurutnya, pendekatan edukasi tidak cukup hanya dilakukan melalui imbauan. Guru perlu terlibat dalam membangun kebiasaan positif agar siswa memahami pentingnya menghabiskan makanan yang disediakan sesuai kebutuhan mereka.
“Guru dapat berperan langsung dengan mengajak anak-anak mengonsumsi makanan yang tersedia. Keteladanan dari guru akan membantu siswa memahami pentingnya makanan bergizi,” kata Ananias.
Salah satu langkah yang dapat diterapkan ialah membiasakan kegiatan makan bersama antara guru dan siswa di dalam kelas. Dalam kegiatan tersebut, guru dapat memberikan contoh dengan turut mengonsumsi menu yang disediakan, termasuk sayuran dan makanan bergizi lainnya. Cara ini diharapkan membuat siswa lebih mudah menerima kebiasaan makan sehat.
Ia berharap, pembiasaan tersebut dapat menumbuhkan kesadaran anak secara bertahap. Jika pada awalnya siswa mengikuti arahan guru, ke depannya mereka diharapkan mampu memahami manfaat makanan bergizi dan mengonsumsinya atas kemauan sendiri. Dengan begitu, tujuan pemenuhan gizi melalui program MBG dapat berjalan lebih efektif.
Selain membangun kebiasaan makan sehat, kegiatan setelah makan juga dinilai dapat dimanfaatkan untuk mendidik siswa mengenai kedisiplinan dan tanggung jawab. Salah satunya melalui kebiasaan membersihkan atau mencuci wadah makan setelah digunakan, sehingga anak-anak belajar menjaga kebersihan sekaligus bertanggung jawab terhadap perlengkapan yang mereka pakai.
“Setelah makan, anak-anak juga bisa dibiasakan mencuci piring atau wadah makan masing-masing. Dari kegiatan sederhana itu, mereka belajar disiplin dan bertanggung jawab terhadap barang yang digunakan,” tuturnya.
Ia menambahkan, pelaksanaan MBG tidak hanya berkaitan dengan penyediaan makanan untuk memenuhi kebutuhan gizi siswa. Program tersebut juga dapat menjadi sarana membangun karakter dan membiasakan pola konsumsi yang lebih baik sejak dini. Karena itu, dukungan sekolah diperlukan agar manfaat program dapat dirasakan secara lebih menyeluruh.
Bagi Disketapang Kukar, keberadaan MBG turut memberi ruang untuk memperkuat edukasi pangan. Jika sebelumnya kegiatan dilakukan melalui aktivitas yang melibatkan penyediaan bahan makanan, seperti telur dan susu, kini perhatian juga diarahkan pada upaya memastikan siswa memahami pentingnya mengonsumsi makanan yang telah disediakan dan menghindari pemborosan.
“Tantangan berikutnya adalah memastikan makanan yang diberikan benar-benar dikonsumsi oleh anak-anak, bukan malah menjadi sisa yang terbuang,” sebutnya.
Ia menegaskan, pengurangan sisa makanan membutuhkan kerja sama berbagai pihak, mulai dari guru, komite sekolah, hingga unsur terkait lainnya. Konsistensi dalam memberikan edukasi menjadi salah satu kunci agar makanan yang disediakan melalui program MBG dapat dimanfaatkan oleh penerima manfaat sesuai tujuannya.
Melalui kolaborasi tersebut, Disketapang Kukar berharap MBG tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan gizi pelajar, tetapi juga menanamkan kebiasaan konsumsi pangan yang bertanggung jawab. Edukasi mengenai pola pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) diharapkan berjalan seiring dengan pembentukan karakter siswa serta upaya menekan jumlah makanan yang terbuang. (Adv/Diskominfo Kukar/Rian)




