
TENGGARONG – Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dari Fraksi PDI Perjuangan Rahmat Darmawan mendukung penuh usulan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura agar salah satu Sultan Kutai dapat diabadikan sebagai tokoh nasional pada mata uang rupiah Republik Indonesia.
Menurutnya, Kesultanan Kutai Kartanegara memiliki posisi penting dalam sejarah bangsa Indonesia sebagai salah satu kerajaan tertua, khususnya di Kalimantan Timur (Kaltim). Oleh karena itu, pengusulan tokoh Sultan Kutai dinilai sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan identitas daerah.
“Tentu kami apresiasi ya, karena memang Kesultanan Kutai Kartanegara ini merupakan bagian erat dari sejarah kerajaan tertua kita. Ini juga bentuk penghormatan terhadap sejarah bangsa, bahwa di Kutai Kartanegara kita punya kesultanan yang menjadi ikon bagi masyarakat Kukar dan Kaltim. Kami tentu sangat mendukung,” ujar Rahmat.
Ia juga menegaskan bahwa Kukar memiliki tokoh-tokoh bersejarah yang diakui secara nasional. Salah satunya adalah Sultan Aji Muhammad Idris yang telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional.
“Sultan AM Idris ini salah satu tokoh pahlawan dari Kukar,” tegasnya.
Sebelumnya, perwakilan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Pangeran Hario Notonegoro, secara langsung menyampaikan usulan tersebut kepada Bank Indonesia (BI).
Ia berharap aspirasi itu dapat diteruskan pada pimpinan BI yang memiliki kewenangan dalam pengambilan kebijakan desain mata uang nasional.
“Kami mengusulkan agar bisa disampaikan pada para pemimpin BI yang bisa mengambil sebuah kebijakan. Barangkali dari sultan kami bisa menjadi salah satu gambar yang berada di uang rupiah yang berlaku di republik ini,” kata Pangeran Hario.
Dijelaskannya, bahwa salah satu Sultan Kutai yang telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional adalah Sultan Aji Muhammad Idris pada tahun 2019.
Selain itu, Kesultanan Kutai Kartanegara juga memiliki tokoh lain yang memiliki peran besar dalam membangun kemakmuran kerajaan, yakni Sultan Aji Muhammad Sulaiman yang memerintah pada abad ke-18.
“Di era beliau inilah kemakmuran rakyat Kutai berada di tingkat kesejahteraan yang sangat baik. Bahkan kerajaan mampu memberikan bantuan keuangan kepada kerajaan-kerajaan lain di Kalimantan, terutama Banjar dan Kalimantan Barat,” jelasnya.
Kemakmuran itu, lanjutnya, tercermin dari berbagai peninggalan bersejarah Kesultanan Kutai Kartanegara, seperti mahkota emas yang digunakan oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-21, serta sejumlah benda pusaka lainnya yang menjadi simbol kejayaan dan kesejahteraan kerajaan.
Selain itu, Kesultanan Kutai Kartanegara pada masa lalu juga telah menjalin kerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar.
“Kerajaan Kutai Kartanegara membangun kerja sama dengan dua perusahaan, yakni BPM dan OBM. BPM itu Bataafsche Petroleum Maskapai yang sekarang diambil alih oleh Pertamina di Balikpapan. Sedangkan OBM, Oost Borneo Maskapai, dulu bergerak di bidang batubara,” terangnya.
Menanggapi usulan ini, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltim yang baru, Jajang Hermawan, mengatakan bahwa pihaknya akan menindaklanjuti aspirasi itu sesuai dengan mekanisme yang berlaku di Bank Indonesia.
“Tentunya nanti kami diskusikan di internal. Kemudian juga tentunya dengan kantor pusat di Jakarta. Jadi ada proses-proses yang akan kita lakukan,” pungkasnya.

