Minggu, 8 November 2026 10:03 WITA

Disketapang Ungkap Tantangan Kemandirian Pangan Kukar, Gula Jadi Sorotan

Minggu, 8 November 2026 10:03 WITA

Kepala Disketapang Kukar, Ananias.(Rian)
Kepala Disketapang Kukar, Ananias.(Rian)

ZONAKALTIM.ID, KUTAI KARTANEGARA – Kemampuan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dalam memenuhi kebutuhan pangan menunjukkan hasil positif pada sejumlah komoditas, terutama beras, telur ayam, dan daging ayam ras. Namun, upaya mewujudkan kemandirian pangan secara menyeluruh masih menghadapi tantangan karena beberapa kebutuhan masyarakat, seperti gula dan bawang putih, masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kukar, Ananias, menjelaskan bahwa tingkat kemandirian pangan perlu dilihat berdasarkan karakteristik dan kemampuan produksi setiap komoditas. Kukar telah mampu menghasilkan beras dalam jumlah yang melampaui kebutuhan daerah, begitu pula dengan produksi telur ayam dan daging ayam ras yang relatif mencukupi.

“Untuk komoditas padi dan beras, produksi Kukar sudah mengalami surplus. Kondisi serupa juga terlihat pada telur ayam dan daging ayam ras atau ayam pedaging,” kata Ananias, Minggu (8/11/2026).

Di sisi lain, pemenuhan kebutuhan gula dan sejumlah jenis sayuran, termasuk bawang putih, masih menghadapi keterbatasan produksi lokal. Pasokan dari daerah lain masih diperlukan untuk memenuhi permintaan masyarakat karena tidak semua komoditas dapat dibudidayakan secara optimal dengan kondisi alam yang tersedia di Kukar.

Ia menegaskan, capaian surplus beras menjadi salah satu indikator positif bagi ketahanan pangan daerah. Meski demikian, kondisi tersebut belum bisa dijadikan gambaran bahwa seluruh kebutuhan pangan masyarakat telah dapat dipenuhi secara mandiri, mengingat setiap komoditas memiliki kebutuhan pengembangan dan tantangan produksi yang berbeda.

“Kalau berbicara mengenai kemandirian pangan, kita harus melihatnya satu per satu berdasarkan komoditas. Untuk beras, Kukar sudah mampu mencukupi kebutuhan sendiri, bahkan memiliki surplus produksi,” tegasnya.

Salah satu komoditas yang masih memerlukan kajian lebih lanjut ialah tebu sebagai bahan baku gula. Menurut Ananias, kemampuan tanaman untuk tumbuh di suatu wilayah tidak otomatis menjamin budidayanya layak dikembangkan secara komersial. Kajian dari kalangan akademisi dan peneliti diperlukan untuk menilai kesesuaian lahan, produktivitas, hingga potensi keuntungan yang dapat diperoleh petani.

“Tebu mungkin bisa tumbuh di Kukar, tetapi belum tentu hasilnya menguntungkan jika dibudidayakan dalam skala usaha. Rendemen atau kadar gula yang dihasilkan perlu diperhitungkan karena jika terlalu rendah, produksi gulanya bisa tidak sesuai harapan,” bebernya.

Tantangan serupa juga ditemukan pada pengembangan bawang putih. Kondisi tanah, cuaca, dan iklim di Kukar dinilai belum cukup mendukung produksi komoditas tersebut secara optimal. Situasi ini membuat pemenuhan kebutuhan bawang putih masih mengandalkan pasokan dari luar daerah, sehingga pengembangannya perlu mempertimbangkan aspek teknis dan kelayakan usaha.

Ia menambahkan, penentuan komoditas unggulan harus didasarkan pada potensi wilayah dan peluang keberhasilan budidayanya. Pemerintah tidak hanya perlu mempertimbangkan apakah suatu tanaman dapat tumbuh, tetapi juga harus memastikan hasil produksinya memiliki kualitas dan produktivitas yang memadai serta mampu memberikan nilai ekonomi bagi petani.

“Persoalannya bukan semata-mata tanaman itu bisa tumbuh atau tidak, tetapi apakah layak dikembangkan secara komersial dan bisa memberikan keuntungan bagi petani,” tandasnya.

Dalam waktu dekat, pemetaan potensi pertanian dan kesesuaian lahan menjadi bagian penting dalam menentukan arah pengembangan komoditas pangan di Kukar. Dengan memaksimalkan komoditas yang telah memiliki keunggulan produksi sekaligus mengkaji peluang pengembangan komoditas lainnya, pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat kemandirian pangan tanpa mengabaikan keberlanjutan usaha tani dan pemenuhan kebutuhan masyarakat. (Adv/Diskominfo Kukar/Rian)