Rabu, 21 Oktober 2026 22:33 WITA

Kaltim Target Produktivitas Udang Windu Naik 80 Persen 2045

Rabu, 21 Oktober 2026 22:33 WITA

Ilustrasi Kaltim Target Produktivitas Udang Windu Naik 80 Persen 2045
Gambar: Kaltim Target Produksi Udang Windu Naik

ZONAKALTIM, SAMARINDA – Kalimantan Timur mematok target ambisius untuk komoditas udang windu. Produktivitasnya ditargetkan naik hingga 80 persen sebagai bagian dari peta jalan transformasi ekonomi Kaltim menuju 2045.

Target tersebut tidak hanya soal mengejar tonase, tetapi juga mendorong ekonomi pesisir agar naik kelas melalui benih unggul, budi daya berkelanjutan, dan kemitraan petambak yang lebih adil.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kaltim, Muhaimin, memaparkan target itu dalam Konsultasi Publik Rancangan Rencana Transformasi Ekonomi Kaltim 2045 di Kantor Gubernur Kaltim, Samarinda, Selasa (20/10/2026).

Dalam paparannya, udang windu masuk dalam lima bidang prioritas yang akan punya capaian bersama hingga 2029 sebagai pijakan menuju 2045.

Muhaimin menyebut produktivitas awal udang windu di Kaltim saat ini masih di kisaran 0,58 ton per hektare per tahun. Dari angka dasar itu, rancangan transformasi mengarahkan kenaikan hingga 80 persen.

Baca juga: 

“Begitu juga dengan sektor-sektor yang lain. Misalnya udang windu,” ujar Muhaimin.

Kenaikan Produksi Tak Cukup Hanya Tambah Luas Tambak

Peningkatan 80 persen tidak bisa dicapai hanya dengan memperluas tambak. Ada faktor teknis yang jauh lebih menentukan, mulai dari kualitas benih, manajemen air, teknik pemeliharaan, hingga kesehatan lingkungan tambak itu sendiri.

Benih Berkualitas Jadi Kunci Utama

Indikator Mulai dari Hatchery Hingga Panen Berkelanjutan

Dalam dokumen rancangan, indikator pengembangan udang windu mencakup tiga hal utama: jumlah benih berukuran dan berkualitas baik, produktivitas budi daya per hektare, dan penerapan praktik budi daya yang berkelanjutan.

Penguatan hubungan antara hatchery atau fasilitas pembenihan dengan petambak juga menjadi fokus. Selama ini, salah satu kendala petambak adalah akses terhadap benih windu yang seragam dan tahan penyakit.

Tanpa benih unggul, target produktivitas akan sulit tercapai meski lahan tambak tersedia luas.

Baca juga: 

Petambak Kecil Butuh Pendampingan Nyata

Muhaimin menegaskan transformasi ekonomi harus menyentuh pelaku usaha kecil, termasuk petambak tradisional di pesisir.

“Usaha kecil juga memerlukan layanan pengembangan,” kata Muhaimin.

Akses Benih, Modal, dan Pasar Masih Jadi PR

Rancangan Belum Rinci Jumlah Penerima dan Anggaran

Bagi petambak skala kecil, dukungan itu sangat relevan. Mereka butuh benih berkualitas, pendampingan teknis budi daya, akses pembiayaan, hingga kepastian pasar.

Namun dalam paparan yang disampaikan, rancangan tersebut belum merinci berapa jumlah petambak yang akan didampingi, berapa kebutuhan benih total, maupun besaran anggaran yang disiapkan. Hal ini menjadi pekerjaan rumah agar target 80 persen tidak berhenti sebagai angka di atas kertas.

Contoh Sukses dari Berau, Panen Naik Tanpa Buka Lahan Baru

Praktik budi daya ramah lingkungan sudah mulai diterapkan dan memberi hasil. Di Kabupaten Berau, tepatnya di Kampung Pegat Batumbuk, pendekatan Shrimp Carbon Aquaculture atau SECURE mulai diuji coba pada Juni 2026.

Baca juga:

Panen Naik 15 Persen Sambil Jaga Mangrove

Model Konservasi dan Tambak Bisa Jalan Berbarengan

Petambak Abdul Rahman melaporkan hasil panen udang windunya naik dari sekitar 100 kilogram menjadi 115 kilogram dalam satu masa panen setelah menerapkan pendekatan tersebut.

Konsep SECURE mengatur pemanfaatan lahan tambak secara selektif sambil mempertahankan sebagian besar kawasan untuk konservasi dan pemulihan mangrove. Artinya, peningkatan produksi tidak harus mengorbankan hutan mangrove.

Meski menjanjikan, hasil dari satu lokasi di Berau tidak bisa langsung digeneralisasi untuk seluruh Kaltim. Kondisi lahan, salinitas air, dan pola pengelolaan di setiap kawasan pesisir berbeda-beda.

Potensi Ekspor Besar, Tapi Mutu Harus Dijaga

Udang windu memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar internasional. Dinas Kelautan dan Perikanan Kaltim mencatat ekspor perikanan daerah mencapai 1.262 ton dengan nilai sekitar Rp230 miliar pada periode Januari–Mei 2026.

Cold Storage dan Rantai Dingin Jadi Penentu

Harga Layak untuk Petambak Kunci Keberlanjutan

Udang windu menjadi komoditas terbesar baik dari sisi volume maupun nilai dalam periode tersebut. Potensi ini membuat peningkatan produktivitas harus dibarengi dengan pengendalian mutu.

Ketersediaan fasilitas penyimpanan dingin, pengolahan pasca panen, dan rantai distribusi yang memadai menjadi penting untuk menjaga kualitas produk hingga sampai ke pembeli luar negeri.

Bagi petambak, kenaikan produksi baru akan berdampak optimal jika diikuti akses pasar dan harga jual yang layak. Karena itu, pengembangan udang windu harus melihat keterkaitan utuh mulai dari pembenihan, pembesaran, pengolahan, hingga pemasaran.

Dalam Rancangan Transformasi Ekonomi Kaltim 2045, udang windu berkelanjutan menjadi salah satu dari lima bidang prioritas. Tahap awal hingga 2029 akan menjadi fondasi menuju sasaran jangka panjang 2045.

Tantangan berikutnya bagi pemerintah adalah menjabarkan target 80 persen itu menjadi program yang terukur. Kejelasan target akhir, kebutuhan benih, jumlah petambak yang didampingi, dukungan pembiayaan, serta indikator keberlanjutan lingkungan harus dirinci agar perkembangan program bisa dievaluasi.

Dengan dukungan yang tepat, pengembangan udang windu tidak hanya berpeluang memperkuat ekonomi masyarakat pesisir, tetapi juga mempertahankan fungsi ekologis tambak dan mangrove. Keberhasilannya harus diukur bukan hanya dari kenaikan produksi, melainkan juga dari peningkatan pendapatan petambak dan keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.