Selasa, 27 Oktober 2026 16:36 WITA

Pemkab Kukar Dorong Kemandirian Pasokan Telur Lewat Pengembangan Peternakan

Selasa, 27 Oktober 2026 16:36 WITA

Kepala Distanak Kukar, Moh. Rifani. (Rian)
Kepala Distanak Kukar, Moh. Rifani. (Rian)

ZONAKALTIM.ID, KUTAI KARTANEGARA – Ketergantungan terhadap pasokan telur dari luar daerah menjadi salah satu peluang yang ingin dijawab Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) melalui pengembangan peternakan ayam petelur. Program ini direncanakan menyasar lima kecamatan sebagai langkah memperkuat produksi lokal sekaligus memenuhi kebutuhan telur masyarakat.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Moh. Rifani, mengatakan pengembangan ayam petelur tetap menjadi salah satu program yang dilanjutkan pemerintah daerah. Selain sektor peternakan, pihaknya juga memprioritaskan pembangunan dan pengembangan jaringan irigasi serta jalan usaha tani untuk menopang produktivitas pertanian.

Menurutnya, berbagai program tersebut disiapkan untuk mendukung penguatan sektor pertanian dan peternakan secara berkelanjutan. Pengembangan usaha ayam petelur diharapkan menjadi salah satu upaya memperluas produksi pangan di daerah.

“Program ayam petelur tetap kami lanjutkan. Selain itu, pembangunan dan pengembangan irigasi serta jalan usaha tani juga menjadi perhatian untuk mendukung kegiatan pertanian dan peternakan,” kata Rifani, Selasa (27/10/2026).

Adapun lima kecamatan yang masuk dalam rencana pengembangan ayam petelur tersebut meliputi Kota Bangun, Muara Muntai, Kota Bangun Darat, Loa Janan, dan Loa Kulu. Penentuan lokasi ini menjadi bagian dari upaya memperluas kegiatan peternakan di sejumlah wilayah Kukar.

Meski lokasi pengembangan telah dipetakan, jumlah ayam yang akan disiapkan masih dalam tahap penghitungan. Distanak juga mempertimbangkan jenis ayam yang akan didatangkan agar produksi telur dapat dimulai dalam waktu relatif lebih singkat.

“Kami masih menghitung kebutuhan dan skema pelaksanaannya. Ayam yang akan digunakan bukan anak ayam atau *day-old chick* (DOC), melainkan ayam pullet yang usianya sudah mendekati masa bertelur,” sebutnya.

Pemilihan ayam pullet dinilai dapat mempercepat waktu menuju masa produksi dibandingkan jika peternakan dimulai dari DOC. Meski tidak langsung menghasilkan telur saat didatangkan, ayam yang mendekati usia produksi diharapkan dapat mulai bertelur setelah melewati masa penyesuaian dan memenuhi kondisi pemeliharaan yang diperlukan.

Dengan skema tersebut, pengembangan peternakan diharapkan dapat lebih cepat memberikan hasil. Namun, waktu mulai produksi tetap bergantung pada usia ayam, kondisi kesehatan, pemeliharaan, serta kesiapan pengelolaan di masing-masing lokasi.

Rifani menegaskan, pertimbangan utama program ini adalah kebutuhan pasar yang masih mengandalkan pasokan telur dari luar Kukar. Penguatan produksi lokal diharapkan dapat menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan masyarakat sekaligus memperpendek rantai distribusi.

“Pasarnya sudah ada karena selama ini pasokan telur dari luar daerah masih cukup banyak. Jika produksi lokal bisa berkembang, kita memiliki peluang menyediakan telur yang lebih segar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” tandasnya.

Distanak Kukar berharap pengembangan ayam petelur di lima kecamatan tersebut dapat memperkuat ketersediaan telur lokal sekaligus membuka peluang usaha di sektor peternakan. Bersamaan dengan pembangunan irigasi dan jalan usaha tani, program ini diharapkan mendukung peningkatan produktivitas serta memperkuat sektor pangan daerah. (adv/diskominfokukar/Rian)